Setiap zaman memiliki persimpangannya sendiri— titik di mana ide, keyakinan, dan identitas bertemu, berbenturan, atau justru bersatu. Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus keyakinan: bahwa Oikumenisme (gerakan menuju kesatuan umat beriman) dan Nasionalisme (kesetiaan pada tanah air) bukan dua kutub yang bertolak belakang, melainkan dua arus yang bisa saling mengisi. Di Indonesia, persimpangan ini bukan sekadar wacana, melainkan denyut nadi sejarah yang nyata.
“Kita tidak ditakdirkan untuk sepakat dalam segala hal, tapi kita bisa belajar bersatu di tengah perbedaan — inilah pelajaran paling sublim dari oikumenisme dan nasionalisme.” Selamat memasuki persimpangan ini. Mari kita temukan bersama: gerakan apa yang akan lahir setelah membaca buku ini?